MID :   Password :  
You are here : Home / News / Artikel


Artikel

   
Artikel
Selasa, 19 Juli 2011

Artikel kesehatan

9 Tips Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

 

Permasalahan rumah tangga tentu hanya bisa dipahami oleh suami atau istri yang menjalani pernikahan. Berat ringannya konflik rumah tangga bergantung pada orang-orang yang memang terlibat di dalam permasalahan tersebut.

Harmonis adalah perpaduan dari berbagai karakter warna yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Warna hitam misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin dan jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi jika berpadu dengan warna putih, maka ia akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Begitu pula halnya dengan rumah tangga yang merupakan perpaduan antara berbagai karakter warna; ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa masing-masing warna tersebut sempurna karena pasti di antara mereka memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu, dalam berumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan harus saling berpadu mengisi kekosongan-kekosongan yang ada.

Nah, berikut beberapa tips yang dapat diaplikasikan untuk memadukan masing-masing warna anggota keluarga sehingga terjalin suasana yang harmonis.

Pertama, memperlakukan istri dengan baik merupakan perkara yang dianjurkan oleh syariat.

Seorang suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik serta banyak bersabar dan lapang dada dalam menghadapinya, apalagi jika usianya masih belia. Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa Aisyah r.a. pernah berkata, “Orang-orang Habasyah (Ethiopia) masuk ke dalam masjid bermain, maka Nabi Saw. berkata kepadaku: ‘Wahai yang kemerah-merahan, apakah engkau ingin melihat mereka?’ Aku berkata, ‘Iya.’ Nabi Saw. lalu berdiri di pintu, aku mendatanginya, aku letakkan daguku di atas pundaknya, dan aku sandarkan wajahku di pipinya. Rasulullah Saw. berkata, ‘Sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)?’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan terburu-buru.” Lalu beliau (tetap) berdiri untukku (agar aku bisa terus melihat mereka. Kemudian ia berkata, ‘Sudah cukup?’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, jangan terburu-buru. Aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah Saw. di sisiku dan kedudukanku di sisi Rasulullah Saw.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua, berupaya saling mengenal dan memahami.

Perbedaan lingkungan dan kondisi tempat suami atau istri tumbuh sangat berpengaruh dalam pembentukan ragam selera, perilaku, dan sikap masing-masing. Hal itu merupakan kewajiban setiap pasangan suami sitri untuk memahami keadaan ini dan berusaha mengetahui serta mengenal pihak lain yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka juga harus mengetahui semua hal yang berkaitan dengan situasi kehidupan yang mempengaruhi pasangannya sehingga dapat maju dan mewujudkan keharmonisan.

Ketiga, panggil istrimu dengan nama yang ia sukai.

Sebagaimana Rasulullah Saw. memanggil Aisyah r.a. dengan sebutan Humaira (si Merah Delima). Maka, bertanyalah kepada istrimu mengenai nama yang ia sukai. Istri pun harus melakukan hal yang sama yaitu memanggil suami dengan sebutan yang disukainya.

Keempat, saling memberikan pujian.

Pada dasarnya, manusia itu senang dipuji dan ini termasuk kebutuhan (tabiat). Hendaknya suami sering memuji istri, demikian pula sebaliknya. Memuji pasangan dapat dilakukan di hadapan orangtuanya atau kerabatnya dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang dimilikinya. Misalnya dengan memuji masakannya yang enak atau semacamnya. Hal serupa juga dapat dilakukan kepada anak-anak.

Kelima, bersikap qana’ah.

Di antara tanda keharmonisan cinta pasangan suami istri adalah sikap merasa puas dengan yang ada (qana’ah) atau merasa puas dengan prasarana hidup yang tersedia. Masih berkelanjutannya sikap manja, kebiasan hidup serba ada, boros, dan berfoya-foya pada masa kecil atau remaja termasuk salah satu faktor yang memicu pertikaian pasangan suami istri. Sikap demikian berlawanan dengan kedewasaan yang menuntut pandangan realistis tentang kehidupan. Hal-hal picisan dan glamour yang digembar-gemborkan media sejatinya tidak akan menciptakan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati hanya akan memancar dari hati dan jiwa terdalam, bukan bertolak dari aspek-aspek materi yang justru memicu kesenjangan dan konflik.

Keenam, sekali-kali ajak istri jalan-jalan, piknik, atau rekreasi.

Tentu saja, bepergian yang dimaksud adalah mengunjungi tempat-tempat yang dihalalkan. Setiap bulannya, jadwalkan waktu pergi berdua (kencan) dengan istri agar ia tidak sumpek terus menerus berada di rumah.

Ketujuh, senantiasa bersikap terus-terang, jujur, dan sportif.

Ini merupakan kunci kebahagiaan kehidupan rumah tangga yang tidak mungkin nihil dari kesalahpahaman. Jika Anda melakukan kesalahan, maka yang harus dilakukan adalah bergegas meminta maaf, berani mengakuinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Sikap tersebut sama sekali tidak berarti menistakan status dan harga diri Anda. Hal itu justru mendorong pihak lain untuk menghormati, mempercayai, dan memaafkan Anda.

Kedelapan, jangan melihat ke belakang.

Jangan pernah menyesali keputusan yang telah dibuat menyangkut pernikahan. Pertanyaan seperti, “Kenapa waktu itu saya mau saja dinikahi, ya?” atau “Kenapa tidak saya tolak saja ya pinangannya?” harus dibuang jauh-jauh. Ketidakharmonisan bisa saja bermula dari pertanyaan sepele tersebut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian. Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Jangan lari dari masalah dengan melongok ke belakang atau (na’udzubillah) membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga ia akan dengan mudah meracuni.

Kesembilan, sertakan sakralitas berumah tangga.

Salah satu pijakan yang paling utama dalam berumah tangga adalah adanya ketaatan pada syariat Allah. Jika dihitung secara materi, berumah tangga itu melelahkan dan justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan. Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu semua kepada Sang Pemilik Masalah, Allah Swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah Swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi. Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan berdoa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terasa ringan dan secara otomatis solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!

Permasalahan rumah tangga tentu hanya bisa dipahami oleh suami atau istri yang menjalani pernikahan. Berat ringannya konflik rumah tangga bergantung pada orang-orang yang memang terlibat di dalam permasalahan tersebut. Karenanya, Allah Swt. pun menyediakan pintu darurat hanya boleh dibuka ketika segala upaya telah diusahakan. Meski diperbolehkan, perceraian merupakan sesuatu yang dibenti oleh Allah Swt. sebagaimana hadits riwayat Abu Daud dan Hakim yang berbunyi, “Sesuatu yang halal tapi dibenci Allah adalah perceraian.” Jadi memang, semua terserah pada yang menjalankan. [Ali]

Sumber  : MAPI edisi Maret 2011